Tanito Harum PHK 300 Karyawan, Saham Harum Energy Amblas!
23a08c72-9b17-42a1-ab40-a9c6651dcfa1_169

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham emiten pertambangan PT Harum Energy Tbk (HRUM) amblas pada penutupan perdagangan Kamis ini (11/7/2019) di tengah kabar PT Tanito Harum, perusahaan berelasinya, disebut telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 300 pegawainya.

PHK itu dilakukan karena perpanjangan izin operasional perusahaan tambang tersebut dibatalkan pemerintah, dan kini lahan bekas tambangnya kembali ke negara. Sebelumnya, ketika nama Tanito Harum menjadi sorotan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dengan perpanjangan kontrak, saham Harum Energy juga melorot.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, saham HRUM minus 1,07% di level Rp 1.385/saham, dengan nilai transaksi Rp 3,37 miliar dan volume perdagangan 2,42 juta saham.

Setahun terakhir, saham emiten yang didirikan oleh salah satu taipan bisnis di Indonesia, Kiki Barki, ini melorot hingga 54%. Asing hari ini melepas saham HRUM mencapai Rp 508 juta di pasar reguler, dan setahun terakhir asing keluar hingga Rp 211 miliar di semua pasar.
Pelemahan saham Harum Energy sudah terjadi dalam 6 hari perdagangan terakhir, bahkan dalam 30 hari perdagangan terakhir sahamnya juga minus 4,15%.

Tanito Harum adalah perusahaan pihak berelasi dari Harum Energy. Tanito dan Harum selama ini juga terlibat transaksi pihak berelasi. Per akhir Desember 2018, misalnya, Harum tercatat punya piutang di Tanito sebesar US$ 429.919 dari tahun 2017 sebesar US$ 140.662.

Bahkan dalam prospektus Harum pada September 2010, disebutkan bahwa keduanya berelasi karena berkaitan dengan pemegang saham utamanya dan sebagian pengurusnya sama antara Harum dan Tanito.

Pada 5 Januari 2010, PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ), anak usaha Harum Energy, juga mengadakan kesepakatan jual beli batu bara dengan Tanito Harum dan PT Tambang Damai untuk penyediaan batubara sampai sebanyak 1 juta metric ton per tahun, dengan periode kontrak dari Januari 2010 sampai dengan Desember 2014 dan dapat diperpanjang secara otomatis sampai dengan tahun 2018.

Situs Indonesia-Investments, menyebutkan Harum adalah bagian dari Tanito Harum Group, yang didirikan oleh Kiki Barki, salah satu orang terkaya di Indonesia. Forbes mencatat kekayaan Kiki Barki sekitar US$ 680 juta pada 2013, atau sekitar Rp 9,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.100/US$).

Sebagai informasi, Tanito Harum adalah 1 dari 7 tambang batu bara raksasa yang gelisah dengan revisi PP Nomor 23 Tahun 2010, terutama yang terkait perpanjangan operasi tambang batu bara. Kontraknya berakhir pada Januari 2019, namun revisi yang belum kelar mengakibatkan nasib tambang Tanito serba tak pasti.

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/

Selasa, 21 Juli 2020
|
105